{"id":9193,"date":"2026-05-12T06:46:27","date_gmt":"2026-05-11T23:46:27","guid":{"rendered":"https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/?p=9193"},"modified":"2026-05-28T23:46:19","modified_gmt":"2026-05-28T16:46:19","slug":"isi-yogyakarta-angkat-isu-kekerasan-dan-trauma-lewat-gelar-karya-dosen-pedalangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/en\/2026\/05\/12\/isi-yogyakarta-angkat-isu-kekerasan-dan-trauma-lewat-gelar-karya-dosen-pedalangan\/","title":{"rendered":"ISI YOGYAKARTA ANGKAT ISU KEKERASAN DAN TRAUMA LEWAT GELAR KARYA DOSEN PEDALANGAN"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Program Studi S1 Seni Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta bekerjasama dengan SMK Negeri 1 Kasihan menyelenggarakan pertunjukan wayang dengan tawaran baru di Arena Terbuka SMK Negeri 1 Kasihan Bantul atau SMKI Yogyakarta. Pergelaran ini diselenggarakan pada hari Senin, 11 Mei 2026 dengan mengaangkat isu kekerasan, trauma psikologis, dan pencarian jati diri melalui cerita-cerita pewayangan. Pemilihan SMKI Yogyakarta sebagai lokasi kegiatan juga dinilai strategis karena membuka ruang interaksi langsung antara dosen, mahasiswa, siswa, guru, dan komunitas seni pedalangan. Kegiatan ini sekaligus menjadi implementasi program Kampus Berdampak yang mendorong perguruan tinggi hadir lebih dekat dengan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kegiatan dibuka Kepala SMKN 1 Kasihan, Agus Suranto, S.Pd., M.Sn., dan menjadi bagian dari penguatan jejaring pendidikan seni antara sekolah seni dan perguruan tinggi. Agus Suranto, S.Pd., M.Sn. berharap kegiatan semacam ini akan terus berlanjut untuk memperkuat jejaring, dan membangun ekosistem pedalangan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gelar karya ke dua pada tahun 2026 ini menghadirkan 3 karya pakeliran padat. Konsep pakeliran padat yang digunakan dalam pertunjukan menjadi strategi artistik untuk menyesuaikan pola apresiasi penonton masa kini. Struktur cerita, iringan, dan pola garap dipadatkan tanpa menghilangkan kekuatan estetik maupun pesan moral yang ingin disampaikan. Penampil pertama dari siswa SMK Negeri 1 Kasihan yang membawakan lakon <em>Sinta Ilang. <\/em>Dua karya dosen ISI Yogyakarta kali ini dibawakan oleh dua dosen Pedalangan ISI Yogyakarta, yaitu \u201cIman Suwongso Takon Bapa\u201d karya Aneng Kiswantoro, S.Sn., M.Sn. dan \u201cDendam Kesumat Jara\u201d karya Hariyanto, S.Sn., M.Hum. Adanya kolaborasi pertunjukan dalam satu kegiatan ini, ISI Yogyakarta menegaskan komitmennya dalam diseminasi karya seni sekaligus pengembangan ekosistem pedalangan di tengah perubahan zaman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aneng Kiswantoro menghadirkan lakon \u201cIman Suwongso Takon Bapa\u201d dalam format Wayang Golek Menak gaya Yogyakarta. Cerita tersebut mengisahkan perjalanan seorang anak mencari ayahnya di tengah godaan kekuasaan dan tipu daya. Melalui kisah itu, Aneng ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya ketelitian dalam mengambil keputusan, pengendalian diri, serta ketulusan hati dalam mencari kebenaran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hariyanto, S.Sn., M.Hum melalui lakon \u201cDendam Kesumat Jara\u201d mengangkat persoalan kekerasan fisik dan verbal yang kerap dibenarkan atas nama pendidikan keras. Cerita disajikan dari sudut pandang Nyai Jara, seorang ibu yang mengalami tekanan batin hingga halusinasi akibat trauma mendalam. Hariyanto mengatakan, karya tersebut sengaja dibangun dari perspektif korban agar publik lebih memahami dampak psikologis kekerasan yang sering tidak terlihat. &nbsp;Menurutnya, wayang memiliki ruang yang luas untuk membicarakan persoalan kemanusiaan. Pedalangan tidak hanya dipahami sebagai tontonan tradisi, tetapi juga medium refleksi sosial yang mampu menyampaikan kritik secara artistik dan komunikatif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melalui Gelar Karya Dosen ini, ISI Yogyakarta menunjukkan bahwa seni tradisi tidak berhenti sebagai warisan masa lalu. Wayang justru terus hidup sebagai medium pendidikan, kritik sosial, sekaligus pembentukan karakter di tengah dinamika masyarakat modern. Tawaran inilah yang digulingkan dua dosen Pedalangan ISI Yogyakarta dalam event ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan mengangkat isu trauma, kekerasan, integritas moral, dan pencarian jati diri di teater arena SMKI Yogyakarta membuktikan bahwa wayang tetap relevan untuk membaca persoalan zaman dan menjembatani dialog antara tradisi, pendidikan, serta kemanusiaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-8f761849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-23.20.06-1-1024x576.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-9222\" srcset=\"https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-23.20.06-1-1024x576.jpeg 1024w, https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-23.20.06-1-768x432.jpeg 768w, https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-23.20.06-1-640x360.jpeg 640w, https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-23.20.06-1-400x225.jpeg 400w, https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-23.20.06-1-367x206.jpeg 367w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-23.20.05-1-1024x576.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-9223\" srcset=\"https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-23.20.05-1-1024x576.jpeg 1024w, https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-23.20.05-1-768x432.jpeg 768w, https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-23.20.05-1-640x360.jpeg 640w, https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-23.20.05-1-400x225.jpeg 400w, https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-23.20.05-1-367x206.jpeg 367w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Program Studi S1 Seni Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta bekerjasama dengan SMK Negeri 1 Kasihan menyelenggarakan pertunjukan wayang dengan tawaran baru di Arena Terbuka SMK Negeri 1 Kasihan Bantul atau SMKI Yogyakarta. Pergelaran ini diselenggarakan pada hari Senin, 11 Mei 2026 dengan mengaangkat isu kekerasan, trauma psikologis, dan pencarian jati diri melalui [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":9226,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-9193","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"a3_pvc":{"activated":false,"total_views":0,"today_views":0},"featured_image_src":{"landsacpe":["https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-23.20.03-1140x445.jpeg",1140,445,true],"list":["https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-23.20.03-463x348.jpeg",463,348,true],"medium":["https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-23.20.03-300x169.jpeg",300,169,true],"full":["https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-28-at-23.20.03-scaled.jpeg",2560,1440,false]},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9193","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9193"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9193\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9225,"href":"https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9193\/revisions\/9225"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9226"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9193"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9193"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pedalangan.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9193"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}